Aku masih berjuang untuk membuka mata, sampai kudengar azan subuh berkumandang. Kupaksa badanku untuk duduk, mengatasi berat di kepala, lalu perlahan-lahan membuka mata. “Alhamdulillahiladzi ahyana ba’dama ama tana wa ilaihin nusyur,” kubaca doa bangun tidur, sambil berusaha membuka mataku lebih lebar. Uhuk … uhuk … uhuk, batukku masih terasa hebat, tenggorokanku kering. Kuraih tumbler di samping tempat tidurku. Air putih hangat membasahi tenggorokanku. Batukku mulai mereda, pelan-pelan aku melangkah menuju kamar mandi, sikat gigi lalu berwudhu.
Kudengar pintu kamarku dibuka perlahan. Lalu kudengar suara suamiku membangunkanku, “Cay, subuh ya …. Aku salat di atas ya.” Mataku masih terasa lengket, tapi bisa kudengar suara suamiku, “Iya,” jawabku. Lalu kudengar dia kembali menutup pintu, berjalan menuju tangga. Masih kudengar langkah-langkahnya menuju kamar Rais.
Rumah terasa sepi dan dingin pagi menyergapku. Buru-buru aku melangkah menuju kamar, lalu menutup rapat pintunya. Kuhamparkan sajadahku, menikmati waktu berdua dengan-Nya, sambil merangkai kembali doa-doa panjangku. Setelah salat subuh, kepalaku terasa berat, badan pun terasa oleng, buru-buru aku menuju tempat tidur, tak berani rebah. Duduk sambil menikmati dzikir pagiku.
Tiba-tiba disergap sedih, sendiri saja di kamar ini. Tak ada anak-anak yang harus kubangunkan, mereka menginap di rumah tantenya untuk sementara. Tak bisa pula aku menuju dapur, karena badanku belum kuat berdiri tegak, lemas, masih terasa radang tenggorokan, batuk dan dada masih terasa tertekan. Akhirnya, virus covid-19 menghampiriku. Isolasi mandiri sudah seminggu kujalani, waktu terasa panjang, saat sakit mendera. Berharap semua segera berlalu, namun tak bisa serta merta terwujud keinginan. Ikhlas menjalani dan kesabaran sedang diuji.

Berat melalui masa-masa isolasi, walau banyak yang menyemangati dan mendoakan. Namun, harus melalui berat dan sakitnya sendiri. Tak bisa bermanja pada suami, atau menikmati senyum anak-anak. Mereka harus menjauh dariku. Sedih, secara psikologis mental terasa drop juga, membuat imun menjadi makin drop. Di sela-sela merasakan gejala-gejala sakit yang menyiksa, masih terselip syukur. Alhamdulillah, semua gejala masih bisa diatasi, tak harus makin jauh dengan keluarga. Masih bisa berada di rumah, walau sepi, sedih dan nyeri berada di kamar seorang diri.
Alhamdulillah, akhirnya bisa kulewati masa-masa sakitku. Kurang lebih dua bulan, baru terasa benar-benar membaik. Anak-anak kembali pulang, setelah satu bulan berpisah dariku. Suami kembali bersamaku, setelah tiga minggu berjauhan. Subhanallah, nikmat ujian dari-Nya.
Saat sakit menjadi ujian, saat itu pula doa-doa yang kita panjatkan lebih didengar oleh-Nya. Dzikir dan doa-doa panjang menjadi teman, membuat kepasrahan dan bergantung hanya kepada-Nya saja. Dari-Nya pula setelah ujian kesulitan, dibuka pintu-pintu kemudahan. Dukungan dari keluarga, saudara-saudara dan teman-teman berdatangan, masyaallah, sungguh nikmat mana yang akan kau dustakan?
Bersama doa, saat sakit menjadi waktu introspeksi diri, betapa umur tak ada yang tahu sampai kapan. Satu persatu teman berpulang, lalu saudara, kemudian tetangga, Allah Swt takdirkan berpulang, sebab terkena wabah covid-19. Diri ini terasa makin kecil, betapa belum banyak bekal untuk kembali pulang.
Satu persatu peristiwa dalam hidup terpampang. Terbitlah syukur, betapa Allah begitu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ada begitu banyak nikmat yang sudah diraih sepanjang umur ini. Kini bilangan umur bertambah, makin sedikit waktu untuk mengumpulkan bekal untuk kembali kepada-Nya.
Terus bersyukur atas karunia-Nya, bisa sampai ke angka 45 tahun. Diberi kemampuan untuk selesai dari ujian-Nya. Masih diberi hidayah dan waktu untuk bersyukur dan terus bersyukur. Sambil terus berpacu mengarungi waktu, mengumpulkan sebanyak-banyak amal dan semakin semangat menebar manfaat. Agar bekal cukup untuk kembali ke kampung akhirat kelak. Insyaaallah …

Penulis: Wiedha Nugrahanti