
Tahun 2026 bertepatan dengan tahun 1447 H, merupakan tahun yang luar biasa bagi orang yang sudah lebih dari 35 tahun tidak berjumpa. Berawal dari pertemuan kecil yang diwujudkan dengan kesamaan keinginan untuk bertemu bersama, momen Idul Fitri 1447 H dipilih menjadi momen bertemunya angkatan I-V alumni SD Sumberdiren II Garum Blitar, untuk halal bihalal sekaligus reuni yang dibuat dalam tajuk “Temu Kangen”. Ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah peristiwa batin yang sulit dilukiskan dengan sederhana. Panitia yang luar biasa mengupayakan pendataan dengan kunjungan, mengoptimalisasi pendanaan dengan silaturahim langsung ke alumni maupun ke guru-guru, hal ini menjadi modal utama keberhasilan pelaksanaan temu kangen ini.
Alhamdulillah ‘temu kangen’ terealisasi pada hari Minggu tanggal 25 Maret 2026. Pertemuan yang rasanya sulit dilukiskan, terlihat wajah-wajah yang terasa asing, postur tubuh yang telah berubah, rambut yang mulai memutih, langkah yang tak lagi secepat masa kecil dan senyum kekanak-kanakan yang sudah mendewasa, memunculkan rasa haru yang datang bahkan sejak turun kendaraan dan masuk di area acara, terlihat banyak membawa perasaan campur aduk, bahagia, gugup, rindu, sekaligus canggung yang ujung-ujungnya senyum-senyum kecil bermunculan teriring ingatan-ingatan masa kecil yang terangkai.
Bahkan ada diantaranya, yang berjabat tangan lama sambil memperhatikan dan saling bertanya-tanya “hem… sopo yo iki….. sopo yooo….”, “hayooo sopo” jawab temennya….. temen-temen lain tertawa melihat adegan itu…, terus mengingat-ingat nama, dan mencari serpihan wajah masa kecil yang dahulu begitu akrab, baru saat di ingatkan satu kata yang membuat ingatan itu langsung muncul….. “Masya Alloh, Ya… Alloh, lha kok…….”, sambil saling menepuk lengan sambil tertawa kegirangan seperti anak SD kembali, lupa kalau rata-rata sudah mau berumur 50 tahun.
Ada yang dulu bersahabat, kini harus bertanya pelan, “Kamu dulu yang duduk bersamaku ya dan yang suka ngerjain temen-temenya, ya?” Ada yang dulu paling ramai di kelas, kini justru lebih banyak tersenyum sambil mengamati. Sebagian dari kami bahkan mengaku benar-benar lupa, bukan karena tak ingin mengingat, melainkan karena hidup telah membawa masing-masing ke jalan yang sangat panjang. Namun justru di situlah hangatnya “Temu Kangennya”. Kami menyadari bahwa meskipun nama kadang sempat hilang dari ingatan, rasa kedekatan itu ternyata belum sepenuhnya pergi. Dalam obrolan-obrolan kecil, kenangan mulai kembali bermunculan, cerita guru yang penuh dengan semangat membimbing untuk membuat sekolah baru berprestasi, hingga peristiwa-peristiwa sederhana yang pernah menjadi kebahagiaan masa kecil.
Suasana haru semakin terasa ketika nama-nama guru mulai disebut satu per satu. Banyak di antara guru yang dulu membimbing kami ternyata telah lebih dahulu berpulang. Ada jeda yang panjang setiap kali nama mereka disebut, seolah semua yang hadir sama-sama sedang menundukkan hati. Kami mengenang mereka bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai orang-orang yang benar-benar mengantar dan membentuk masa kecil, menanamkan sopan santun, kedisiplinan, dan bekal hidup yang sampai hari ini masih melekat. Dalam momen itu, kami benar-benar merasakan bahwa reuni ini juga menjadi ruang untuk menghormati masa lalu, mengenang jasa para guru, dan menyadari betapa waktu telah mengambil banyak hal tanpa pernah bisa ditahan, terlihat jelas saat mana salah satu Guru Bu Sri Hartutik “menyampaikan rasa kangen, sayang, dan senangnya bisa bertemu kalian semua”, terasa sekali rasa sayang tulusnya ke kami seperti anak-anak yang disayang sepenuhi hati, dari bibir seorang guru “terdengar terucap doa-doa yang banyak untuk kebaikan dan kesehatan anak-anaknya”, tanpa terasa air mata kami juga jatuh, kami ingat orang tua kami, bapak, ibu kami…. tanpa mereka semua kami bukan apa-apa. Semoga mereka semua selalu panjang umur sehat bersama keluarga.
Bagian paling menyentuh dari kegiatan ini adalah saat sungkeman dilakukan. Dalam suasana yang khidmat dan penuh kehangatan diiringi dengan lagu “jasamu guru”, kami satu per satu menundukkan diri, memohon maaf, saling memaafkan, dan melepas beban-beban kecil yang mungkin tak pernah sempat diucapkan selama puluhan tahun. Sungkeman itu membuat acara ini terasa lebih dalam daripada sekadar temu kangen. Ada air mata yang jatuh diam-diam, ada tangan yang bergetar saat saling menggenggam, dan ada pelukan yang terasa menutup jarak puluhan tahun. Momen itu seperti mengembalikan kami pada akar yang sama, bahwa kami pernah tumbuh bersama, pernah belajar di ruang yang sama, dan pernah menjadi bagian dari cerita masa kecil satu sama lain.
Setelah itu, acara foto bersama menjadi penanda yang indah. Kami berdiri berdekatan, tersenyum seolah ingin menahan waktu agar tidak lekas berlalu lagi. Foto itu bukan hanya gambar kebersamaan, tetapi bukti bahwa kami pernah dipertemukan kembali setelah sekian lama dipisahkan kehidupan. Ramah tamah yang berlangsung setelahnya pun terasa hangat dan akrab. Gelak tawa, cerita keluarga, perjalanan hidup, dan kenangan sekolah bercampur menjadi satu suasana yang penuh makna. Reuni ini akhirnya menyadarkan kami bahwa meski usia bertambah, wajah berubah, dan banyak yang telah tiada, ikatan masa kecil ternyata tetap punya tempat yang istimewa di hati. Semoga Alloh selalu melimpahkan panjang umur sehat dan kehidupan yang sukses penuh keberkahan.
