
Ada usia ketika seseorang tidak lagi bertanya seberapa jauh ia telah berjalan, melainkan seberapa dalam hidup ini telah dimaknai. Ketika angka lima puluh datang, waktu tidak terasa seperti garis lurus yang panjang, tetapi seperti cermin yang mendekat pelan-pelan. Di hadapannya, tampak wajah sendiri yang mulai jujur melihat hidup, ada syukur yang besar, ada ketakutan yang tak selalu terucap, ada penyesalan yang diam-diam menunggu dibereskan, dan ada harapan agar sisa umur tidak habis dalam rutinitas yang terus berulang tanpa makna. Dari titik itulah perjalanan enam belas hari ini bermula, sebuah perjalanan yang secara fisik harus dilakukan dan sesungguhnya sedang memindahkan batin dari sibuk menuju sadar, dari ragu menuju pasrah, dari merasa belum pantas menuju keberanian untuk datang karena Allah Maha Mengundang.
Keputusan berangkat memenuhi panggilanNya tidak lahir dari keberanian yang sempurna. Ia justru muncul dari banyak percakapan yang diisi keraguan, soal kesiapan biaya, kesehatan, urusan rumah, anak-anak yang ditinggal, pekerjaan yang tetap harus berjalan, dan yang lebih halus dari semuanya adalah pertanyaan tentang keseiapan hati. Namun justru di situlah perjalanan iman bekerja. Tidak semua keputusan suci lahir dari hati yang sepenuhnya tenang. Kadang seseorang harus melangkah justru ketika ia sadar dirinya rapuh. Di usia lima puluh, aku seperti menemukan satu kesimpulan yang sederhana tetapi menentukan, menunda kebaikan sering kali berarti menunda kesempatan, sementara hidup tidak pernah menjanjikan kata nanti. Maka ketika pintu terbuka, aku dan istrinya memilih melangkah dengan satu bekal utama, husnuzan bahwa jika Allah memudahkan jalan, maka ada rahmat yang sedang disiapkan di baliknya.
Perjalanan dimulai dari panggilanNya لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ, dimulai dari pintu rumah, dari pelukan hangat kepada anak-anak, dari doa-doa yang dipanjatkan dalam diam agar mereka yang ditinggal tetap dijaga oleh Tuhan. Banyak bagian yang paling terasa adalah justru pada momen perpisahan saat kita berangka, anak sulung yang mengantar hingga bandara dengan penuh perhatian, anak laki-laki yang tetap harus berangkat kuliah dengan penuh tanggungjawab, anak bungsu yang sedang menyiapkan masa depannya, dan dua orang tua yang selalu melangitkan doa sambil menyembunyikan haru di balik keteguhan. Di titik itu, perjalanan ke haramoin bukan tempat untuk melupakan rumah, justru tempat yang membuat seseorang semakin sadar betapa besar amanah keluarga yang dititipkan kepadanya. Sebelum kaki menapaki tanah haram, hati sudah lebih dulu belajar bahwa memenuhi panggilan Allah tidak berarti menjauh dari cinta kepada keluarga, melainkan menitipkan cinta itu pada penjagaan yang lebih tinggi.

Di Masjid Nabawi, kita menemukan ketenangan yang pelan, lembut, dan membasuh. Shalat di Masjid Nabawi, ziarah kepada Rasulullah, salam kepada Abu Bakar dan Umar, langkah-langkah kecil menuju Raudhah, serta malam-malam dini hari ketika bersama-sama istrinya berjalan ke masjid dalam udara yang teduh, semuanya menghadirkan satu pelajaran besar ‘cinta kepada Nabi tidak cukup tinggal dalam lisan, ia harus berubah menjadi cerminan diri’. Dalam hati ini, ada pengakuan yang sangat jujur bahwa selama ini manusia begitu mudah mengaku mencintai Rasulullah, tetapi sering belum siap meneladani kelembutan, kejujuran, kesabaran, dan adab beliau. Madinah lalu menjadi sekolah hati. Di Kota ini tidak terasa ada paksaan, tetapi ada rasa tuntutan, tidak mengguncang, tetapi memeluk. Di sini, rindu tidak tampil sebagai euforia, melainkan rasa malu yang indah, rasa kecil di hadapan sejarah kenabian yang agung, dan keinginan agar pulang nanti kita tidak hanya membawa cerita, tetapi membawa perubahan.
Rasa lebih lebih dekat dengan Rosululloh, sahabat Abu Bakar, Umar dan kesempatan berdoa di Roudhoh مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ menumbuhkan kesadaran semua tidak hanya tentang diri kita sendiri, lidah tanpa berhenti menyebut, nama anak-anak, orang tua, keluarga, sahabat, guru, rekan, termasuk institusi tempat mengabdi, tempat berkarya yang dicintai, dibawa masuk ke dalam sujud. Terasa sekali Hati sedang dilembutkan oleh Tuhan, lebih besar dengan mengingat orang-orang disekitarnya.
Madinah seperti pelukan yang hangat di jiwa dan raga, sedangkan Makkah hadir sebagai panggilan untuk tunduk dan taat. Miqat, ihram, talbiyah, thawaf, sa’i, dan tahallul. Ketika dua lembar kain ihram dikenakan, dunia seperti diputihkan, status sosial, jabatan, prestasi, dan segala hal yang biasanya membuat manusia merasa penting, tiba-tiba kehilangan suaranya. Yang tersisa hanya satu identitas: hamba yang datang menjawab panggilan. Thawaf mengajarinya bahwa hidup seharusnya berputar pada pusat yang benar. Sa’i mengajarkan bahwa tawakal bukan berarti diam, tetapi berikhtiar terus meski air belum tampak. Dalam langkah Hajar antara Shafa dan Marwah, ia membaca ulang hidupnya sendiri betapa banyak hari dilalui dengan cemas, padahal pertolongan Tuhan sering datang setelah manusia mau bergerak tanpa putus asa.
Salah satu kedalaman paling kuat dari perjalanan ini adalah bagaimana ibadah di tanah haram menjadi jembatan bakti kepada mereka yang telah pulang lebih dulu. Bakti kepada ibu, bapak, nenek, dan leluhur, نَوَيْتُ العُمْرَةَ عَنْ …… وَأَحْرَمْتُ بِهاَ للهِ تَعَالَى, ini adalah sebuah persembahan cinta, muncul bukan sekadar sebagai kenangan, melainkan sebagai tujuan doa. Di titik ini, menunjukkan bahwa kematian tidak memutus hubungan seorang anak dengan orang tuanya. Di dalamnya ada kesadaran bahwa bakti tidak berhenti pada masa hidup. Ia dapat terus dilanjutkan lewat doa, amal jariyah, ibadah yang dipersembahkan dengan penuh penuh cintah kasih dan ketulisan
Disisi lain, momen perjalanan juga masuk dalam fase titik balik kehidupan manusia, dalam himpitan manusia, sesak napas, jatuh, kehilangan kesadaran, dan kebingungan setelah tersadar dalam thowaf dan sai, menunjukkan hidup kita ini sangat rapuh. Menumbuhkan keyakinan bahwa benar-benar Allohlah sang Maha Pengendali, hidup kita ini adalah tentang amanah besar bernama keselamatan, ada hikmah bernama cukup, dan ada pelajaran bahwa manusia harus belajar menakar dengan kebijaksanaan.
Di antara seluruh lapisan spiritual dalam perjalanan muhasabah, kehadiran pasangan menjadi benang yang sangat kuat. Ia bukan sekadar teman seperjalanan, melainkan saksi hidup, penguat ragu, teman muhasabah, dan cermin syukur. Ikatan yang tercipta dalam pernikahan bukan hanya digambarkan sebagai hubungan yang selesai karena usia, tetapi sebagai persahabatan yang terus matang, membawa umur yang sudah tidak muda, luka hidup yang tentu tidak sedikit, dan tanggung jawab keluarga yang panjang, tetapi justru di sana, sudah semestinya dipertemukan lagi dalam bentuk yang lebih tulus untuk sama-sama belajar menyiapkan hidupnya berpulang kepada Allah. Pilihannya cinta lebih halus, syukur lebih nyata, dan rasa terima kasih lebih mudah diucapkan tanpa berharap balasan.
Pada akhirnya, enam belas hari lebih dekat bersaman-Nya, bukanlah kisah tentang kesempurnaan tanpi belajar untuk lebih menghadapi hidup lebih jujur dan apa adanya. Belajar untuk tampil sebagai manusia biasa yang membawa rasa takut, rasa malu, kelelahan, keraguan, cinta pada keluarga, rindu pada orang tua, dan harapan agar sisa umur tidak sia-sia. Karena itu, perjalanan ini terasa dekat dengan evaluasi diri. Manusia tidak selalu mampu menjadi baik seketika, tetapi ia selalu bisa belajar pulang, belajar jujur, belajar bersyukur, dan belajar menjadikan sisa umur lebih bermakna. Setelah lima puluh tahun berlalu, guratan yang tertinggal bukan lagi tentang apa yang berhasil dikumpulkan, melainkan tentang kepada siapa hati ini akhirnya sungguh-sungguh bersandar.
Sebagai penutup, saat hati berani mengakui bahwa dirinya membutuhkan Tuhan. Dari situ semua insya Alloh berubah, doa menjadi lebih jujur, keluarga terasa lebih berharga, orang tua yang telah tiada kembali hidup dalam doa, pasangan dan semua rezeki yang ada terasa sebagai karunia yang benar-benar lebih harus disyukuri.
Dan umur lima puluh tidak lagi dibaca sebagai ancaman senja, melainkan undangan untuk menata sisa hari dengan lebih bermakna.
Semoga Alloh memberikan kekuatan kepada kita untuk berusaha selalu lebih baik. Sehat selalu dan lebih semangat
Haromain, 12-27 Februari 2026