Mulailah Menanam, Tanam Uangmu Ke Dalam Tanah

Berapa banyak tanaman yang tumbuh dan dirawat selama usia kita hidup? Berapa pohon yang ditebang tanpa diganti kala kita butuh untuk membangun rumah, membangun jalan, membangun rumah ibadah, membangun kantor, membangun pasar, membangun sekolah dan seterusnya.

Kesadaran setiap orang untuk memberikan manfaat bagi sesama, adalah bentuk kearifan manusia yang mahal harganya di era kini. Meski kadang nilai nya tidak bisa dijadikan angka-angka atau dalam bahasa ekonomi, sesuatu memiliki nilai tukar.

Marilah, mulai dari diri sendiri untuk bersikap lebih ramah terhadap lingkungan, dari hal-hal yang sederhana saja. Merawat lingkungan kehidupan agar lebih nyaman dan asri, melestarikan dan menciptakan ruang hidup yang bernilai guna untuk sesama. Melalui hal sederhana saja, menanam, merawat lingkungan.

Meski sederhana, kegiatan merawat lingkungan harus dikerjakan berkelanjutan dan disiplin. Kala jadi nilai bersama sangatlah bermanfaat untuk banyak orang. Tentu saja, kala hadir kesadaran etik moral, menjadi pelestari. Ini bisa dikerjakan dengan menerapkan gaya hidup harmoni, selaras dengan alam.

Sejatinya, hidup selaras dengan alam bukan sekedar urusan menanam, merawat semata tapi sekaligus penciptaan ruang hidup harmoni dengan lingkungan. Prinsip selaras dengan alam bisa sangat dekat dengan arsitektur, interior rumah, penataan kawasan, perencanaan wilayah hingga transportasi publik yang harmoni dengan alam adalah sesuatu yang ideal. Sayangnya, tidak semua bisa terlaksana karena ada “ongkos” mahal untuk mewujudkan semua itu.

Ada konsep manusia Jawa, Memayu Hayuning Buwana, membuat kehidupan yang selaras, harmoni adalah puncak kesadaran manusia dalam hidup di dunia. Hidup harmoni bersama alam, merawat ekosistem lingkungan hunian dengan memberikan ruang bertumbuh pepohonan, tanaman sayur-sayuran dan tanaman buah, aneka rupa bisa jadi sumber bahan pangan sekaligus sumber produsen oksigen.

Prof Sudjarwadi, (alm) Rektor UGM, dalam satu kesempatan menyampaikan pemikiran “mulailah menanam uangmu ke dalam tanah”. Tanam pohon sebanyak-banyaknya, agar kelak anak cucu merasakan hasil tanaman yang ditanam orang tua. Menanam adalah mewariskan masa depan agar lebih baik.

Apa yang disampaikan kini bisa dinikmati bersama-sama yaitu hadirnya Wisdom Park di timur kampus UGM. Area yang dulunya tanah terlantar, kini tertata dan menjadi “hutan kecil” yang ditanam pepohonan rindang di bantaran sungai yang selalu meluap kala banjir. Kawasan pengendali banjir itu menjadi satu titik “produsen oksigen” yang asri, bisa jadi tempat jogging bersama sivitas akademika juga masyarakat umum.

Ada banyak sosok teladan dari banyak individu di tanah air, yang memberikan laku hidup dan pemikiran yang hingga hari ini bisa jadi warisan pembelajaran, sikap dan konsisten dalam upaya pelestarian, merawat lingkungan. Hutan Wanagama, hutan percontohan milik UGM yang dikelola Fakultas Kehutanan dengan rintisan Prof Umi Haniin contoh nyata setelah rusaknya alam Gunungkidul karena penebangan masif oleh Jepang kini sudah lebih asri, bertumbuh aneka jenis tanaman, sumber mata air mengalir lagi, kala pepohonan mampu menyimpan air hujan yang diresapkan akar menjadi cadangan air tanah.

Pepohonan cemara udang di pesisir pantai selatan DIY, rintisan Prof Suhardi (alm) dosen Fakultas Kehutanan UGM bisa jadi sumber belajar bagaimana mitigasi bencana dijalankan meredam abrasi pantai dan jadikan cemara udang sebagai pemecah angin laut.

Presiden ke-5, Hj Megawati Soekarnoputri sosok pemimpin yang memiliki passion dan kecintaan flora dan fauna. Ada laku kepemimpinan dengan keteladanan diberikan yaitu dalam tiap rapat DPP PDI Perjuangan kala makan buah buahan, biji buah yang telah dimakan dikumpulkan untuk ditanam. Jadi sumber bibit buah buahan yang bisa ditanam, perhatian yang besar pada pepohonan, bunga anggrek dan flora adalah bagian gaya hidup Megawati. Sementara Bung Karno, Proklamator RI kita ingat juga memiliki kebiasaan menanam pohon di banyak daerah yang kini bisa menjadi bagian cerita sejarah kebangsaan di banyak titik di tanah air, terutama di kampus atau institusi pendidikan.

*********

Urusan pepohonan, tanaman dan penanaman pohon memang butuh keberlanjutan dan keseriusan. Bukan sekedar menanam semata lalu ditinggalkan begitu saja, tapi butuh keteladanan, telaten karena harus ada perawatan. Kala tidak ada perawatan, maka bisa sekedar menanam lupa atau abai merawatnya.

Sebagai ilustrasi, meski bertujuan baik, kegiatan penanaman pohon kelapa di kawasan pesisir selatan beberapa tahun lalu, kini tak bersisa. Harapan dan mimpinya sederhana, setiap pohon kelapa yang ditanam di pesisir bisa menandai dan melengkapi kisah nyiur kelapa di pantai pesisir selatan Blitar.

Menurut cerita Wawan Budi Wilapa, bersama kelompok Blitarian pernah menginisiasi dan berhasil menanam ratusan bibit pohon kelapa. Sayangnya tidak ada rasa kepedulian sari aktifitas penanaman pohon kelapa di pesisir selatan Blitar ini dari warga lokal. Seiring waktu, harapan memanen hasil pohon kelapa menemukan fakta bibit kelapa mati. Masyarakat pesisir menolak penanaman kelapa di sekitar lahan mereka. Pohon kelapa yang ad dekat lahan tebu, dianggap mengganggu pertumbuhan tanaman warga.

Ada niat baik, ada perhatian CSR dari Sampoerna yang diwujudkan dengan belanja bibit kelapa. Sayangnya, program dan niat baik tidak membuahkan hasil karena minimnya perhatian komunitas lokal yang peduli lingkungan menjadi lebih asri.

Berkaca dari program ini, tentu ke depan edukasi kepedulian lingkungan adalah pekerjaan bersama-sama yang penting dikerjakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *