Bergaya di Depan Kamera, Ingat Jutaan Lebih Mata Melihat

Hal yang biasa dan mudah dikerjakan saat ini, bergaya di depan kamera dengan sekehendak hati dan pose yang paling dianggap terbaik. Sekejap saja, mesin waktu berhenti menjadi imaji atau foto freeze atau dalam dunia fotografi kita kenal istilah menghentikan gerak.

Sebelum bicara soal bergaya di depan kamera, mari menelisik lebih awal apa itu fotografi dan sejarah teknologi visual yang kini sangat populer dan mudah aksesnya. Singkatnya, fotografi adalah proses melukis dengan cahaya dalam pengertian awam yaitu tak ada gambar jika tak ada cahaya. Jika menjadi pembelajar fotografi, pasti mengenal istilah ruang gelap, rana, aperture, diafragma, fokus, kecepatan. Itu dulu, pengetahuan dasar soal fotografi yang masih analog.

Kini semua istilah itu sebenarnya masih melekat di alat-alat fotografi terkini, fotografi digital juga gadget. Hanya saja, sering penggunaan mode auto, mesin yang bekerja dan manusia atau apapun namanya sebagai obyek lebih mudah, cepat, instant terekam menjadi sebuah foto.

PEDAGANG SAPI Pasar Dimoro

Ini jalan pintas berkisah, dengan kata kunci, sejarah teknologi kamera, mesin AI Google memberikan catatan ini, teknologi kamera berevolusi dari camera obscura (kamar gelap) pada abad ke-11 menjadi perangkat digital modern. Foto permanen pertama dibuat oleh Joseph Nicéphore Niépce pada 1816, disusul Daguerreotype (1839), kamera film Kodak (1888), hingga kamera digital Sony Mavica (1981) dan teknologi mirrorless serta AI pada smartphone saat ini. 

Berikut adalah poin-poin penting sejarah perkembangan teknologi kamera:

  • Kamera Obscura (Abad ke-11-16): Konsep awal kamera, yang ditemukan oleh ilmuwan Arab Al-Haitam, berupa ruangan atau kotak gelap dengan lubang kecil yang memproyeksikan gambar terbalik.
  • Foto Permanen Pertama (1816-1830-an): Joseph Nicéphore Niépce berhasil menciptakan foto permanen pertama menggunakan kotak kayu dan pelat yang peka cahaya. Louis Daguerre kemudian mengembangkan Daguerreotypes pada 1839 yang dianggap sebagai kelahiran fotografi praktis.
  • Kamera Film & Portabel (1888-1925): George Eastman meluncurkan kamera Kodak pertama yang menggunakan film gulung (1888), membuat fotografi terjangkau. Leica memperkenalkan kamera format kecil 35mm pada 1925, menetapkan standar industri.
  • Kamera Instant (1948): Polaroid menciptakan kamera yang memungkinkan hasil cetak foto langsung keluar dalam hitungan menit.
  • Era Kamera Digital (1970-an-2000-an): Sony memperkenalkan Mavica, kamera digital pertama pada 1981. Teknologi sensor CCD (1969) dan kemudian CMOS menjadi fondasi fotografi digital modern.
  • Modern (2000-an-Sekarang): Kamera berkembang menjadi DSLR, mirrorless yang ringkas, dan integrasi kamera berkualitas tinggi pada smartphone dengan bantuan Artificial Intelligence (AI). 

Nah, di Indonesia teknologi ini dibawa oleh pendatang, lagi lagi inilah hasil googling dengan kata kunci sejarah fotografi Indonesia. Ringkasnya bisa dibaca lengkap berikut ini.

Sejarah fotografi di Indonesia dimulai tahun 1840-an saat fotografer Eropa datang, namun tonggak penting adalah studio Woodbury & Page di Batavia (1857) dan munculnya fotografer pribumi pertama, Kassian Cephas (1870-an) yang mendokumentasikan budaya Jawa, menjadikan fotografi alat kolonial sekaligus awal identitas visual nasional. Pasca-kemerdekaan, fotografi berperan dalam dokumentasi perjuangan (IPPHOS, Mendur Bersaudara), berkembang pesat dengan digitalisasi, dan kini menjadi bagian penting seni, sejarah, serta ekspresi personal lewat media sosial.

Era Awal (Kolonial)

  • 1840-an: Jurian Munich, petugas medis Belanda, mulai memotret tanaman dan bentang alam Hindia Belanda menggunakan metode Daguerreotype.
  • 1857: Studio foto pertama dibuka di Batavia oleh Woodbury & Page, menandai ramainya studio foto komersial.
  • Kassian Cephas (1870-an): Pelopor pribumi pertama, fotografer resmi Keraton Yogyakarta yang mengabadikan candi (Borobudur), upacara Jawa, dan tarian, memicu minat fotografi di kalangan pribumi.
  • 1893: R.N. Basah Tirto Soebroto menerbitkan tutorial fotografi bahasa Melayu, “Hikajat Ilmoe Menggambar Photographie”. 

Era Perjuangan & Kemerdekaan

  • Propaganda Jepang: Menggunakan foto untuk promosi kegiatan mereka.
  • 1946 (IPPHOS): Alex dan Frans Mendur mendirikan IPPHOS (Indonesia Press Photo Service) untuk mengabadikan perjuangan kemerdekaan, menciptakan arsip visual sejarah bangsa.
  • Fotografi Revolusioner (1950-an): Kelompok fotografer Indonesia menggunakan medium untuk pesan sosial-politik tentang perjuangan dan ketidakadilan.

Era Modern & Digital

  • Perkembangan Teknologi: Masuknya kamera digital dan media sosial mempermudah akses dan penyebaran foto.
  • Seni dan Komunitas: Lahirnya berbagai festival, pameran, dan komunitas (seperti MES56 di Yogyakarta) yang mengembangkan fotografi sebagai seni kontemporer dan ekspresi budaya.
  • Fotografer Terkenal: Muncul nama-nama seperti Darwis Triadi dan Prabuddha Dasgupta, memperkuat posisi fotografi Indonesia di kancah internasional

Nah, apa pesan penting dari kegiatan “bergaya depan kamera, ingat jutaan mata melihat”. Begini, di era teknologi digital yang semakin pandai dengan hadirnya akal imitasi, sebuah foto menjadi “kayu bakar” atau bahan dasar aneka pengembangan hasil olahan akal imitasi. Bisa menjadi gambar bergerak, bisa jadi alat propaganda hingga hal-hal yang berbau private, serba rahasia dilekatkan pada visualisasi seseorang.

Sekali posting foto diri, di jagat digital sebenarnya mulai saat itulah kita membuka ‘batas individual’ menjadi data digital. Di sinilah, harus sama-sama kita pahami teknologi yang tengah hadir memiliki dua fungsi sekaligus. Hal-hal positif, sekaligus hal-hal negatif.

Maka, patutlah dicatat bersama-sama, dalam sekejap saja sekarang seseorang dengan jari jemarinya bisa menguasai dunia dan menjadi fokus perhatian.

Hilangnya batas-batas negara, batas kedaulatan sebuah negara di jagat digital memang sangatlah kabur. Kecuali, hanya sekedar administratif atau angka dalam paspor. Itupun bisa beresiko dan berdampak global, di tengah situasi dunia yang tidak menentu. Melalui foto, bergaya di depan kamera, sejatinya manusia juga bisa mengubah impresi, pengetahuan, identitas diri, nasionalisme, karakter hingga promosi budaya masing-masing. Di saat bersamaan, melalui selembar foto, bisa hadir ribuan narasi cerita yang menggugah emosi, persepsi dan rasa ingin tahu lebih jauh. Melalui fotografi, ada hal-hal rahasia yang bisa tersingkap, jadi milik publik jagat maya.

Angkutan Sekolah di Blitar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *