Berdaulat Di Jagat Media Sosial

MARI mencatat, wajah kita di dalam media sosial yang rutin diakses. Apa saja yang sering kita bagikan dan tulis, unggah untuk bisa dibaca publik yang luas. Cek lagi, apakah hal hal pribadi, yang sepela, remah dan remeh semata atau sekedar re-post hal yang menarik menurut kita, atau memberikan perspektif pengalaman keseharian yang bisa jadi rujukan bagi netizen.

Tidak ada yang salah dalam perilaku kita di media sosial masing-masing. Itulah wajah digital, profil, persona atau citra diri yang tanpa sadar memang kita bangun sesuai minat, perhatian masing-masing. Terhubung atau terkoneksi dengan jagat digital, dunia maya, memang seperti mengarungi luasnya dunia dalam artian sebenarnya.

Ada istilah terra incognita, tanah tak bertuan yang disediakan oleh pemilik platform digital dalam banyak bentuk akses digital. Nah, di sinilah, ada sesuatu hal sederhana yang penting dipahami bersama. Urusan kedaulatan, berdaulat di jagat media sosial. Kenapa perlu dan penting sebagai pengetahuan, sebagai dasar bermedia sosial, sebelum pada pilihan bijak bermedsos?

Begini, sering tanpa kita sadari, dalam bermedia sosial justru kita terdikte oleh algoritma yang menuntun untuk selalu terhubung, menjelajah dan melakukan scrolling. Di beberapa penelitian, ada bahaya scrolling, kebiasaan berganti tontonan dalam waktu cepat bisa mengakibatkan kecepatan demensia, atau ada istilah brain root, membuat manusia cepat rusak ingatan. Iya, bisa jadi karena, otak menampung informasi yang sepotong-sepotong. Cepat berganti, dan tidak penting dikerjakan sebenarnya tapi manusia terjebak untuk melakukan hal hal berulang, untuk membunuh waktu. Mengisi waktu luang. Ini jelas berbahaya, tapi aktifitas ini banyak yang melakukan dengan tanpa kesadaran.

Jadi, sangat penting mulai sejak sekarang mengaudit hal sepele yang dikerjakan dalam bermedia sosial. Setidaknya sesuai fungsinya ada tiga hal yang lekat dengan media sosial yaitu fungsi tontonan atau sosialisasi, edukasi hingga mobilisasi.

Sejarah panjang dunia digital, yang berawal dari project mengumpulkan informasi secara daring memang lekat dengan dunia militer yang masuk ke ranah publik domain. Perkembangan media digital, telah menggantikan media cetak dalam artian sebenarnya. Maka jika pernah menonton film dokumenter Page One In New York Times, hari ini kondisi kekalahan media cetak, sudah nyata adanya.

Disrupsi teknologi informasi sudah semakin jauh merasuk ke budaya global bermedia. Melalui satu unggahan, publik yang terhubung nun jauh di seberang benua sudah bisa langsung mengaksesnya. Penting atau tidak, itu hal berikutnya. Peristiwa terkini, misalnya bisa kita simak tentara dan polisi yang meng-edukasi (itu kalau kita pilih diksi niat baik) lalu merekam aksi dan disebar di jagat maya. Seorang pedagang es di Kemayoran, jadi sasaran tuduhan jualan es spoons yang dianggap membahayakan anak-anak, tuduhan yang berujung viral. Bermasalah karena Sudrajat mengakui dapat perlakuan kekerasan dari tentara dan polisi.

Endingnya, kita tahu netizen langsung bereaksi keras atas tindakan tidak terpuji dari aparatur negara yang seharusnya memberikan perlindungan dan memberdayakan ‘wong cilik’. Sesuatu yang bukan tugasnya, justru menambah deretan ‘citra buruk’ yang melekat di tubuh polisi dan tentara, meski oleh komandan kesatuan masing-masing bisa disebut, itu tingkah ‘oknum’ bukan sikap kepolisian dan TNI. Terkini, upaya penyelesaian nya dibingkai dengan “upaya damai, dialog yang sejuk” lebih dikedepankan. Alih-alih memberikan hukuman disiplin keras bagi aparat yang bertindak di luar batas kewenangan yang dimiliki.

Bagi publik, bagi masyarakat luas, sebagai pengguna media sosial, selalu saja ada tuntutan agar lebih arif, bijak dalam bermedia sosial. Ini tentu hal baik, tapi yang paling utama dalam urusan bijak bermedia sosial, tentu saja frasa berdaulat dalam artian sebenarnya.

Berdaulat dalam hal apa saja? Di dalam konteks bermedia sosial, tampi di dalam jagat maya tentu harus memahami baik fungsi media secara umum, sarana sosialisasi, edukasi dan mobilisasi. Bicara sosialisasi, dari status yang kita posting di platform medsos, setiap orang sejatinya adalah sumber informasi. Ini nanti sangat bergantung pada kualitas informasi seperti apa yang dibagikan. Berikutnya, ada fungsi edukasi yang bisa dikerjakan kala bermedia sosial, berdaulat dalam dunia digital. Bisa berbagi atau edukasi soal data, tips hingga pengetahuan urusan pangan, sandang dan papan.

Kedaulatan bermedsos yang penting, yaitu sarana mobilisasi. Inilah sejatinya yang bisa menggerakan user setelah terhubung lalu ada sentimen positif atau negatif dari hasil interaksi bermedsos penting bermakna bagi pengguna. Mobilisasi dukungan, juga protes atas beragam hal berkaitan dengan kritik kekuasaan adalah satu peran dan fungsi yang bisa dimainkan dalam bermedia. Setelah terhubung, berinteraksi dan melakukan aksi adalah bagian dari kedaulatan bermedsos yang bisa dikerjakan oleh semua. Tentu saja, harus dibekali seperangkat pengetahuan dasar, urusan kemanusiaan dan keadilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *