“IKAN Sepat Rock Band”, Nostalgia berwujud Karya

Semuanya berawal dari sebuah reuni akbar SMAN Blitar angkatan 94-an tahun 2024 yang riuh. Di antara tawa yang membahana dan obrolan tentang kesibukan karier serta keluarga, ada satu sudut di mana percakapan terasa lebih intim, ada yang dulu vokalis band sekolah, ada pemain bass yang tenang, dan jari-jarinya dulu lincah di atas gitar imajiner, mengenang kembali masa-masa mereka di panggung pentas seni.

Ingat tidak? Kita pernah membawakan lagu Dewa 19 sampai penonton hafal di luar kepala,” kenang salah satu diantaranya sambil tertawa.

Obrolan iseng itu ternyata menyalakan kembali sebuah percikan yang lama padam. Seminggu kemudian, mereka benar-benar berkumpul di studio musik rumahan milik Om Timbul. Awalnya canggung. Jari-jari yang terbiasa mengetik di laptop atau memegang setir mobil terasa kaku di atas senar dan stik drum. Namun, ketika intro lagu “Kamulah Satu-Satunya” mulai mengalun, semua kekakuan itu luruh. Mereka kembali menjadi anak-anak SMA, terhubung oleh harmoni dan kenangan.

Namun, di dalam studio, semua label itu tanggal. Tidak ada senioritas, tidak ada junioritas. Yang ada hanyalah semangat kebersamaan. Mereka bukan lagi sekadar memainkan ulang lagu-lagu lama. Energi kolektif yang muncul dari perbedaan usia dan pengalaman hidup justru memantik sebuah kreativitas baru.

“Bagaimana jika kita tidak hanya bernostalgia, tapi menciptakan nostalgia versi kita sendiri?” usul salah satu diantara suatu malam setelah sesi latihan. Benar ini terwujud dalam tampilan pertama pada saat Reuni 30th dilaksanakan.

Tak berhenti sampai disitu, ide itu menjadi titik balik. Mereka mulai menulis lagu. Liriknya bukan lagi tentang cinta monyet di sekolah, melainkan tentang refleksi kehidupan di usia yang memasuki 50-an, tentang rindu pada kesederhanaan, tentang persahabatan yang bertahan melintasi waktu. Racikan riff gitar yang terdengar seperti rock alternatif era 90-an, yang diberi fondasi ritme yang lebih modern dan solid, ditambahkan lapisan melodi keyboard yang melankolis, khas balada masa itu, tetapi dengan harmoni yang lebih kompleks.

Lahiriah sebuah genre baru yang mereka sebut “Pop-Rock Dewasa”, sebuah kolaborasi unik. Musiknya adalah mesin waktu yang membawa pendengar kembali ke nuansa tahun 90-an, namun lirik dan aransemennya terasa relevan dengan masa kini. Ada semangat pemberontakan khas anak band, tetapi dengan kebijaksanaan orang dewasa.

Band yang  dinamai “IKAN Sepat Rock Band (ISRB)” itu menjadi lebih dari sekadar hobi. Ia adalah wadah di mana semangat kebersamaan mengalahkan ego, di mana usia hanyalah angka, dan di mana kenangan masa lalu bukan menjadi penjara, melainkan fondasi untuk membangun karya baru. Mereka membuktikan bahwa semangat kreatif tidak pernah lekang oleh waktu, dan kadang, untuk melompat lebih tinggi ke depan, kita hanya perlu mengambil ancang-ancang dari masa lalu yang indah.

Tahun  ini,  tepatnya terhitung sejak tanggal 06 Januari 2026 – kita masuk dalam fase yang siap untuk tampil dimana saja…. semangat kawan

Bravo Philipus Andri, Jatmiko (Miko), Anthony Yusuf, Yohan Recardana (Mas Joe), Zephyra, Nova Supernova, WB.Wilapa (wawan), Dudi Arifianto, Son Harsono Markus dan Timbul Arifin

Special Philipus, succes selalu yang telah meluncurkan Album Single nya…, Go… Go… Go…

https://www.facebook.com/share/p/1CTYcAgNRw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *