Tinggalkanlah ‘Mata Air’ Yang Jernih dan Menyegarkan, Jangan Pernah Tinggalkan ‘Air Mata’

Batu, 10 September 2025, Pagi yang  dingin diiringi suasana cuaca mendung hari ini, tidak menjadi penghalang rasa hangatnya hubungan antara seorang dosen yang pernah jadi mahasiswa dengan guru-gurunya. Joke-joke kecil terlontar dari lidah para guru menggoda mahasiswa yang sekarang menjadi teman sejawatnya, rasa akrab dengan sangat terasa dalam satu meja tempat makan di rumah makan seberang Jatim Park 3.

Hadir juga disitu Guru besar, guru dari semua dosen yang hadir yang dalam hidupnya mendidikasikan dirinya menjadi seorang Mahaguru pencinta Ilmu, seorang Profesor Hukum asli dari Blitar yang sudah ikut serta berkontribusi bagi keadilan di Negeri ini dengan menjadi Hakim Mahkamah Konstitusi yang masih dengan rendah hati untuk mau duduk dan berbagi cerita serta berbagi ilmu dengan sejawat dosen yang dulunya mahasiswanya.

Kecintaan terhadap negeri dan lembaga yang dibangunnya membuatnya tidak pernah lelah untuk berkontribusi dalam kondisi apapun, pengorbanan tenaga,  hati, perasaan, jiwa, materi sudah tidak terukur dilakukan tanpa berharap balasan, semua hanya berkeyakinan bahwa hidup harus dapat memberi makna kepada siapapun dengan cara apapun. Ketika ada pertanyaan apa yang sebenarnya ingin dilakukan jawaban sederhananya “Saya punya Prinsip dimanapun kita berada tinggalkanlah mata air yang Jernih dan menyegarkan, jangan pernah tinggalkan air mata, trenyuh terasa dalam hati ini, prinsip ini jelas-jelas  mengajarkan agar “kita selalu meninggalkan sesuatu dengan kesucian dan kebaikan seperti mata air yang jernih yang selalu memberikan kesegaran tanpa ada tendensi, tanpa berharap dipuji, tanpa berharap balasan, tanpa ingin di ingat yang terus mengalir… mengalir… dan mengalir dan tanpa menyisakan luka atau kesedihan bagi diri sendiri maupun orang lain”.

Prinsip tersebut terlihat betul penekanan terhadap arti pentingn sebuah ketulusan yang sudah seharusnya dimiliki oleh setiap orang dalam menjalani kehidupanya, bersama keluarga, bersama handai taulan sahabat dan kepada setiap insan manusia. Kehidupan yang memperhatian eksistensi seorang manusia dalam hidup yang harus siap memberi makna baik yang siap menghadapi perpisahan ataupun perubahan hidup.

Betapa semakin terasa tidak mudah, saat diskusi lebih lanjut membicarakan situasi global Negeri tercinta hari yang berimbas ke kehidupan kita,  manusia hari ini lebih cenderung melihat, mendengarkan dan  mematuhi siapa yang bicara bukan apa yang dibicarakan. Kekuasaan, kerakusan, keserakahan dan eksistensi diri sudah tidak lagi mengenal latar belakang pendidikan, kultur, budaya dan agama. Tempat baik yang seharusnya menjadi tempat yang tepat untuk orang baik dan profesional, menjadi tempat yang menjerumuskanya kejurang kebobrokan, tempat yang harusnya menjadi tempat membuktikan sosok profesional menjaga amanah menjadikannya orang yang khianat dan seterusnya.

Akhirnya diskusi ditutup dengan munculnya pertanyaan, apa yang sekarang harus kita lakukan?, jawabannya “lakukan sesuatu yang dapat dilakukan yang diyakini kebenaranya, jika ternyata tidak didengarkan setidaknya tugas kalian sudah berusaha dengan ikhtiar perbuatan dan lisan sebelum terakhir tetap berdoa dan minta pertolongan Alloh”. Trimakasih Prof Achmad Sodiki semoga panjang umur dan selalu sehat, Insya Alloh silaturahim pagi ini bermanfaat dan menjadikan kami semua tetap semangat untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik dan lebih bermakna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *