Menjelajah Gili Iyang ‘The Lost Island’ Pulau dengan Oksigen Terkaya Kedua di Dunia

Gili Iyang adalah sebuah pulau kecil yang terletak di Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Pulau ini terkenal sebagai “Pulau Oksigen Terbaik Kedua di Dunia” dengan kadar oksigen mencapai 20,9% pada siang hari dan 21% pada malam hari, yang jauh lebih tinggi dibandingkan kadar oksigen di daerah lain pada umumnya yang berkisar 17-18%.

https://maps.app.goo.gl/ot6e6AgdxvZasgXh6?g_st=aw

Kami bersama temen-temen masa muda sejumlah 13 orang, telah membuktikannya dan itu benar adanya, tanggal 7 September 2025, pukul 05 Pagi mengawali perjalanan menuju Gili Iyang, pengalaman unik yang memadukan petualangan perjalanan laut, keindahan alam, dan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Gili Iyang terletak di perairan Kabupaten Sumenep diujung pulau Madura menjadi destinasi favorit banyak orang, apalagi sebelum covid-19.

Perjalanan yang penuh tantangan ini dimulai dari penginapan di kota Sumenep,  Start dari Hotel pagi-pagi dengan menggunakan kendaraan carter dapat dipacu kearah timur menuju Dermaga Dungkek, perjalanan perlu 1 jam. Dari sana, kita akan menaiki perahu tradisional dengan kapasitas ± 50 orang menuju Gili Iyang.

Perjalanan laut ini memakan waktu sekitar 30 – 40 menit, tergantung kondisi ombak dan cuaca. Saat perahu melaju di atas air laut yang jernih, kita memiliki sensasi rasa perjalanan yang menarik, bisa menikmati pemandangan panorama laut luas tanpa tepi yang begitu memukau dan  kita bisa secara nyata  melihat ciptaan Alloh yang begitu indah dan tanpa batas.

Mendekati Gili Iyang, suasana perjalanan laut yang luas diiringi ombak laut yang memacu adrenalin yang membuat beberapa penumpang mabuk laut, seketika berubah menjadi damai dan menenangkan. Pulau kecil ini belum banyak tersentuh pembangunan,  terasa udaranya masih sangat segar dan bersih tidak ada rasa udara laut saat kita turun dan menginjakkan kaki.

Turun di dermaga gili iyang disambut dengan angkutan odong-odong (motor roda tiga) yang mengangkut kita dengan kapasitas 8 orang diajak menuju spot indah di Gili Iyang, pertama adalah Goa Celeng, dalam hikayatnya  goa ini merupakan tempat persembunyian orang-orang budha, karena keunikan baik stalagtit dan stalagmitnya yang indah juga memiliki pintu goa, maka Goa ini diganti nama menjadi Goa Mahakarya.

Saat kita masuk kita akan menyaksikan betapa proses terbentuknya stalagtit dan stalagmit masih terus terjadi, kita sebut goa hidup, masih juga terlihat didalamnya rumah-rumah kelelawar. Melihat tanahnya yang berkarang-karang, kita meyakini pulau ini dulunya pasti berada dibawah laut dan hal itu dibenarkan “Gili Iyang” adalah “Pulau Yang Hilang (the lost Island)” yang ditemukan oleh seorang.

Keheranan dan semakin bertasbih saat merasakan udara di pulau yang berada ditengah laut dengan teriknya matahari tanpa ada batas terasa segar… segar….. terasa sekali kesegarannya.

Setelah dari goa, kita dibawa menuju ke spot Titik Oksigen, ketika kita sampai di titik oksigen terasa terdapat beberapa lokasi gubuk tempat duduk dan menikmati oksigen, benar terasa beda sekali bernafas dengan tingkat oksigen yang tinggi dengan saat bernafas di daerah yang tingkat polusinya tinggi.

Perjalanan dilanjutkan menuju ke lokasi makan siang, disini menikmati makan siang ikan bakar khas Gili Iyang yang segar, rasa lapar membuat proses makan menjadi terasa cepat. Waktu tiba-tiba sudah menunjukkan pukul 11.30, kita harus merapat ke Dermaga untuk ikut perahu terakhir yang kembali ke Dermaga Dungkek pada pukul 12.00  Wib.

Sementara masih terdapat beberapa spot yang semestinya bisa dikunjungi dan belum jadi bisa dikunjungi batu cangghe, hutan bakau yang rimbun, perbukitan hijau, hingga pantai-pantai dengan pasir putih yang alami.

Penduduk lokal yang ramah juga akan menyambut dengan keramahan khas Madura, membuka kesempatan untuk mengenal budaya dan kehidupan tradisional mereka.

Perjalanan menuju Gili Iyang bukan hanya soal menuju destinasi wisata, tetapi juga tentang menikmati proses perjalanan yang menyatu dengan keindahan alam dan ketenangan yang langka ditemukan.

Mengunjungi Gili Iyang adalah kesempatan untuk bernafas lebih lega, menjauh dari polusi kota, menjauhkan diri dari hiruk pikuk kehidupan dan mensyukuri serta menghargai kekayaan alam karya Tuhan di tanah tercinta Indonesia yang masih terjaga dengan baik.

Estimasi Biaya :

Dari Bungurasih naik kendaraan pribadi/publik ke Sumenep, tersedia penginapan berkisar 150 – 300 ribu, Carter kendaraan ke Pelabuhan Dungkek, naik kapal ke Gili 15 ribu/orang, naik odong nego 100 – 200 ribu, isi kas spot 50 – 100 ribu dan naik kapal kembali ke Pelabuhan Dungkek 15 ribu/orang  (kapal Reguler) / Carter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *