
By. H. Dr. M. Arif Faizin, M.Pd. (disampaikan saat giat Doa Khotmil Qur;an, Yasin dan tahlil Ikan Sepat, Kamis malam jum’ah 1 Januari 2026 / Rajab 1447 H)
Tahun telah berganti lagi. Kalender berubah, resolusi baru ditulis, dan banyak orang mengulang ritual yang sama: menutup lembar lama lalu membuka lembar baru dengan harapan lebih baik.
Namun ada satu realitas yang sering luput kita sadari: waktu terus berjalan tanpa negosiasi. Ia tidak menunggu siapa pun, tidak peduli seberapa sibuk kita, seberapa lelah kita, atau seberapa banyak alasan yang kita miliki.
Dalam kondisi seperti ini, Surat Al-‘Ashr hadir seperti alarm spiritual yang paling jujur:
{ وَٱلۡعَصۡرِ (1) إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ (2) إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ (3) }
“Wal ‘ashr” — Demi waktu. Allah bersumpah dengan waktu, seolah mengingatkan bahwa hidup manusia bukan sekadar peristiwa yang kita jalani, melainkan sebuah perjalanan yang terus berkurang. Lalu ayat berikutnya menampar kita dengan lembut namun tegas: “Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” Kerugian di sini bukan hanya soal uang, karier, atau pencapaian yang gagal, tetapi kerugian eksistensial, yaitu saat ketika kita melewati hari-hari tanpa nilai, tanpa arah, tanpa pertumbuhan, dan tanpa kebermaknaan.
Refleksi akhir tahun bukan sekadar menghitung pencapaian atau menilai apakah target tercapai. Refleksi yang benar adalah bertanya: Apakah aku lebih dekat kepada Allah dibanding tahun lalu? Apakah aku lebih bermanfaat? Apakah hatiku lebih bersih atau justru semakin keras? Tahun 2025 mungkin penuh dengan kesibukan; tugas, pekerjaan, proyek, sosial media, dan rutinitas yang tampak produktif. Tetapi produktif bukan selalu berarti bermakna.

Ada orang yang tampak sibuk setiap hari, namun ruhnya kosong. Ada yang tampak sukses, namun hatinya rapuh.
Al-‘Ashr tidak hanya menyebut kerugian, tetapi juga memberi jalan keluar: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Inilah empat pilar untuk menata hidup di tahun 2026.
Iman mengubah cara kita memandang hidup. Amal saleh menjadikan hidup berdampak. Menasihati dalam kebenaran menjaga kita dari kebiasaan menormalisasi kesalahan. Menasihati dalam kesabaran melatih kita agar kuat menghadapi ujian, konsisten dalam proses, dan tidak mudah menyerah. Cocok sekali untuk kita saat ini sudah memasuk masa 50th umur, hidup SEHAT, BERMAKNA dan LEBIH BERMANFAAT harus menjadi jalan akhir yang kita harus lakukan. Nasihat – menasihati dalam kebaikan dalam syukur dan kesabaran harus kita tingkatkan dalam wujud kongkrit kepedulian dan empaty.
Ust. Arif Faizin juga mengajak di umur yang sudah memasuk 50th lebih, harus berusaha untuk mengistiqomahkan usaha untuk sehat, salah satu caranya adalah rutin jalan 6000 langkah – tidak harus dihitung – aktifkan saja mode program di handphone insya Alloh sudah bisa mengukur aktifitas kita setiap saat.
Semangat… sehat, insya Alloh lebih manfaat buat orang di sekitar.
Terakhir, tahun baru bukan tentang menjadi orang lain. Tahun baru adalah kesempatan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri yang lebih dekat kepada Allah.
Tidak perlu menunggu sempurna untuk memulai. Mulailah dengan yang kecil, shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an setiap hari, memperbaiki akhlak, mengurangi ghibah, mengikuti kegiatan-kegiatan positif yang lebih bermakna dan bermanfaat serta memperbanyak doa.
Karena pada akhirnya, yang membuat kita menang bukanlah seberapa cepat kita berlari, tetapi seberapa benar arah kita untuk hirup yang lebih bermakna dan bermanfaat.