Masih ingat, apa yang penting dilakukan kala ada bencana gempa besar terjadi? Apa saja yang penting disiapkan dalam mitigasi bencana?
Mana yang penting, menyelamatkan nyawa orang lain atau selamatkan diri sendiri saat terjadi bencana? Siapa yang harus diselamatkan terlebih dahulu kala bencana besar datang tiba-tiba?
Coba tulis ulang jawaban semua pertanyaan yang ada. Ajukan pertanyaan ini di keluarga, orang tua kepada anak-anak, di lingkungan RT/RW atau komunitas, sekolah dan kantor masing-masing? Buatlah prioritas, mana tindakan yang penting dijalankan mana yang bisa diabaikan.
Resiliens, daya tahan atau populer dengan kata melenting adalah kondisi respon adaptif terhadap situasi bencana. Ada banyak nilai kearifan lokal bagaimana budaya di nusantara begitu adaptif terhadap kondisi lingkungan, habitat hidup masing-masing di berbagai wilayah. Apa saja? Urusan membangun rumah hunian, di dalam tradisi kepercayaan masyarakat, bisa dilihat meru, atap berundak yang memiliki kemiringan tajam.
Nenek moyang kita rupanya mewariskan pengetahuan respon bencana gunung api, membuat atap dengan posisi kemiringan tajam. Silakan perhatikan bentuk atap di rumah adat di pelosok negeri, pola bangunan bukan saja estetis tapi juga adaptif atas kondisi lingkungan sekitar.
Soal bahan atap, juga tidak seragam di tiap daerah. Genteng, atap genteng baik tanah liat maupun genteng berbahan beton tidak mudah ditemui di desa-desa di Sumatra, tapi lebih banyak berbahan seng. Ada budaya, tradisi tidak mau hidup dibawah tanah kecuali kala manusia dikuburkan. Itu budaya, keberagaman respon menghadaoi kondisi alam, mitigasi bencana dalam ranah standar bangunan aman di berbagai daerah.
Indonesia, kita semua harus memahami adalah negeri dengan potensi terdampak bencana yang beragam jenisnya. Bencana akibat letusan, erupsi gunung berapi, banjir, longsor, angin kencang, hingga bencana gempa bumi hingga potensi mega thrust nyata perlu di mitigasi, dampaknya.
Langkah paling awal, tentu saja membangun kesadaran bagaimana selamat dari bencana. Baik dampak bencana yang diakibatkan oleh faktor alam maupun non alam, bencana sosial misalnya. Lewat cara apa kesadaran di bangun, bisa lewat pendidikan formal maupun informal. Mulai dari lingkup keluarga, bisa diinisiasi urusan mitigasi.
Mitigasi hadapi dampak bencana harus terus disosialisasikan, berlatih dan melakukan simulasi hadapi situasi bencana penting dikerjakan rutin. Berlatih bersama, untuk pastikan siapa melakukan apa, prosedur respon cepat, aman dilakukan bisa dibuat, dirancang bersama dan berlatih agar bisa kurangi resiko bencana. Tidak boleh panik kala ada gempa bumi, perkuat struktur bangunan agar benar-benar tahan gempa jadi contohnya.
Berlatih, simulasi hadapi situasi bencana dalam skala besar, mega thrust gempa besar bukanlah sekedar cerita. Melalui simulasi, bisa jadi pintu evaluasi, pemahaman dan respon cepat tangani korban bencana bisa dikerjakan.
Bekerjasama, gotong royong kala terjadi bencana harus selalu dijalankan. Adaptasi kebiasaan baru agar selamat dari resiko dampak bencana, harus dikerjakan. Kita semua kini dikepung beragam dampak akibat bencana. Langkah pengurangan resiko yang tepat dikerjakan, berbasis komunitas penting. Harapan kita semua selamat dan cepat bangkit kala berhadapan di situasi negeri yang tidak baik baik saja
